Jumat, 13 April 2012

Mars Hizbul Waton

Waktu kecil, aku menghabiskan waktu SD saya di desa kecil bernama Babakan Pameungpeuk, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Ketika digugel, ternyata tidak ada satu desa dibawah Kecamatan Banyuresmi yang namanya Babakan Pameungpeuk berdasarkan wikipedia
(he he he sangat menggelikan padahal saya tinggal disana).
Menurut gugel malah Babakan Pameungpeuk adalah daerah yang terletak di Purwakarta.
Dibawah ini adalah gambar danau (situ Bagendit) sekitar 1-2 km dari Babakan Pemeungpeuk,( seperti di luar negeri ya?) Bahkan UQ lake pun tidak seindah ini.

Situ Bagendit
 (Alam yang seperti lukisan, di lingkungan seperti inilah kami dibesarkan, para pejuang tempe)

Namun demikian, mengenang cerita almarhum Appa (kakek), Babakan Pameungpeuk adalah desa yang yang didirikan oleh pengungsian dari Pameungpeuk. Pameungpeuk adalah daerah pantai di selatan Garut. Penduduk Pameungpeuk mengungsi karena berusaha menyelamatkan diri dari Penjajah. Sebagian besar dari pengungsi tersebut adalah pejuang.

Letak Babakan Pameungpeuk jika dilhat dari jalan utama, letaknya terlihat seperti dibalik bukit, sehingga tidak langsung terlihat dari pinggir jalan. Dulu sekitar tahun 1990-an menuju Babakan Pameungpeuk harus berjalan melalui pematang sawah yang berupa lembah kemudian menanjak menaiki bukit kecil. Konon katanya, hamparan sawah tersebut dulu adalah hutan kecil.

Sebelah kanan jalan setapak dari jalan utama (jalan beraspal),  menuju sawah, ditumbuhi oleh  pohon waru yang posisinya miring ke arah jalan setapak, sehingga ketika daun pohon waru itu cukup rindang, jalan setapak menjadi teduh.
Tepat disamping kiri jalan setapak tersebut terdapat tempat pemandian kuda, waktu terakhir saya melihat tahun awal tahun 2000-an, pemandian itu sudah jarang digunakan dan ditinggalkan hampir tertutup semak-semak.

Karena letak geografisnya yang cukup terlindung baik dari jalan akses dari jalan utama,saya dapat mengerti kenapa Babakan Pameungpeuk menjadi cocok sekali untuk menjadi tempat persembunyian pejuang perang.
terdapat cerita ketika Mengger, desa di seberang jalan utama  dari Babakan Pameungpeuk, yang berada didaerah yang lebih landai, habis diserang dan dikuasai Penjajah, Babakan Pameungpeuk tetap tak tersentuh padahal letaknya hanya selemparan batu dari Mengger.
Perumahan Penduduk di sekitar Situ Bagendit
(Alam yang seperti lukisan, di lingkungan seperti inilah kami dibesarkan, para pejuang tempe)

Almarhum Appa adalah seorang pejuang Hizbul Wathan. Beliau selayaknya pejuang masa itu ditawari menjadi tentara, namun beliau menolak, (he wanted a free name) dan semangatnya aku saksikan selalu berkobar.

Terdapat cerita bahwa Appa pernah melaut sampai ke Suriname dan Darwin. Appa juga pernah sampai ke Borneo dan Papua. Di masa tuanya, Appa masih terlihat sehat, suatu sore ketika Appa memotong kayu bakar, Appa mengajarkan Mars Hizbul Wathan kepadaku. Sampai sekarang itulah warisan paling berharga, kenangan dari Appa. Ketika aku gugel Mars Hizbul Wathan seperti disini dan disni, tidak ada yang sama dengan Mars yang diajarkan Appa. Apakah Mars ini cukup kuno dan sudah dilupakan orang, aku tidak tahu.
Itulah sebabnya aku ingin membagi mars pendek ini sebagai cara berterima kasih kepada Appa.

Mars Hizbul Wathan (Babakan Pameungpeuk)

Pemuda Agama Islam Hizbul Wathan
Marilah, hai kawanku, saudaraku, temanku
Bersatu didalam Liga makmur yang tentu
Ayolah temanku bekerja yang sungguh
di dalam Hizbul Wahtan...

Setiap sore melihat Appa beraktifitas  sambil menyanyi lagu ini menurutku sangat inspiratif.

Foto-foto tersebut didapatkan dari website  http://bandung.panduanwisata.com/